Latest Posts

Makin Panas, Turki Ancam Perangi Amerika Serikat

By 17.01.00

WASHINGTON - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Turki memanas setelah Ankara menuduh Washington ikut mendalangi upaya kudeta gagal di Turki. AS menilai tuduhan Turki berbahaya bagi hubungan bilateral.

Tuduhan dari Ankara muncul dari Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavosoglu pada hari Sabtu. Menurutnya, para pejabat Amerika telah mendalangi upaya kudeta gagal yang dilakukan militer Turki.

Upaya kudeta di Turki telah menewaskan 265 orang dan lebih dari 2 ribu orang lainnya terluka. Rezim Presiden Tayyip Erdogan telah merespons upaya kudeta itu dengan menindak dengan memenjarakan 2.745 hakim oposisi dan menangkap lebih dari 2.800 tentara yang dituduh bersimpati terhadap kudeta.

Tuduhan terhadap AS itu tak lepas dari sosok Fethullah Gulen, ulama oposisi Turki yang berada di AS. Gulen—teman politik Presiden Erdogan yang kini jadi musuh—telah dituduh sebagai dalang kudeta.

Turki, Sabtu (16/7/2016), mengancam akan berperang dengan Amerika Serikat jika tidak segera mengekstradisi Fethullah Gulen (75). Namun, Gulen telah menepisnya.

Ancaman itu dilakukan setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan kembali menegakkan kekuasaanya setelah penangkapan 1.440 tentara yang diduga terlibat upaya kudeta dan akhirnya gagal.

Situs berita Daily Express mengabarkan, Perdana Menteri Binali Yildirim, telah menegaskan bahwa Turki menganggap diri berperang dengan negara mana pun yang melindungi ulama Fethullah Gulen.

"Setiap negara yang melindungi Fethullah Gulen akan menjadi musuh bagi Turki," kata Yildirin sebagaimana dirilis media Inggris tersebut, Sabtu.

Berdasarkan laporan Agence France-Presse, Gulen adalah seorang ‘pengkhotbah yang tertutup’ dan dia menetap di Pocono Mountains (Poconos), Negara Bagian Pennsylvania, AS.

Sekarang Gulen tinggal di Golden Generation Worship and Retreat Center, sebuah kompleks yang cukup luas di Saylorsburg, Poconos.

Gulen, yang selalu kritis terhadap pemerintah Turki yang dinilainya cenderung tangan besi, telah secara tetap dituding sebagai dalang setiap usaha mendirikan “negara tandingan” (parallel state) di Turki.

Pernyataan Yildirim dipandang sebagai ancaman terselubung bagi AS agar menyerah Gulen, yang mengasingkan diri ke AS sebelum dijatuhi hukuman karena dituduh mengkhianati Turki.

Jika tidak menyerahkan Gulen, AS diancam bakal menghadapi konsekuensi diplomatik atau bahkan militer, seperti dilaporkan Daily Express.

Gulen adalah pendiri gerakan Islam moderat yang melambungkan namanya, memelopori dialog antaragama dan demokrasi multi-partai.

Dahulu Gulen adalah sekutu dekat Erdogan. Namun, keduanya akhirnya berseberangan pandangan dalam beberapa tahun terakhir setelah Erdogan mencurigai gerakan pimpinan Gulen, media, kepolisian, dan kehakiman.

Gulen telah mengeluarkan pernyataan bahwa dia tidak terlibat dalam berbagai rencana kudeta atau kegiatan apapun di Turki.

“Saya mengutuk dengan keras upaya kudeta militer di Turki. Pemerintah harus menang dengan melakukan proses pemilihan umum yang bebas dan adil, tanpa paksaan,” kata Gulen.

Menurut Gulen, sebagai seseorang yang telah menderita karena beberapa kudeta militer selama lima dekade terakhir, tuduhan terhadap dirinya itu adalah sebuah hinaan besar.

“Saya tidak pernah merencanakan itu. Saya tegas membantah tuduhan tersebut," kata ulama moderat yang memiliki banyak pengikutinya di Turki.

Washington belum berkomentar atas pernyataan keras Turki yang disampaikan oleh PM Yildirim.

You Might Also Like

0 komentar