Latest Posts

Miris, Warga 'Pinggiran' di Aceh Besar, Tinggal di Rumah Tak Layak dan Minum Air Sungai

By 09.00.00


POSMETRO INFO - Khatijah berjalan tertatih-tatih menuju rumahnya yang terletak sekitar 300 meter dari sungai. Sebuah timba besar warna hitam berisi air, ditaruh di atas kepala. Sesekali langkahnya terhenti. Ia membetulkan langkah agar tidak terpeleset saat melewati jalanan licin. 

Nenek berusia sekitar 70 tahun ini saban hari harus bolak-balik dari rumah ke sungai minimal empat kali. Ia mengangkut air untuk digunakan berbagai keperluan. Mulai cuci piring, masak hingga dijadikan air minum. Air yang sudah diangkut, ia tampung di dalam dua timba besar dan satu guci.

Pekerjaan mengangkut ini sebenarnya bukan perkara mudah bagi Khatijah. Selain faktor usia yang sudah tua, jarak rumah ke sungai juga menjadi kendala. Tapi ia tidak punya pilihan lain jika tidak melakukannya sendiri. Terlebih setelah suaminya sakit. Begitu sampai ke rumah, Khatijah tidak langsung masuk ke dalam. Ia memilih istirahat dulu sejenak di kaki tangga.

"Ini sudah tidak sanggup naik ke atas. Bahu sama leher ini sakit sekali," kata Khatijah kepada detikcom saat ditemui di kediamannya di Desa Siron Blang Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Aceh, Rabu (20/7/2016).

Rumah panggung yang ditempati Khatijah tidak jauh beda dengan warga lain di desa tersebut. Terbuat dari kayu dan beratap seng. Dapur untuk memasak berada di dalam, ruang tamu berukuran kecil dan kamar tidur. Beberapa karung padi tersusun rapi disalah satu sudut rumah. Pakaian tergantung di tali jemuran dekat kamar tidur.

"Istana kecil" milik Khatijah dan kebanyakan warga Desa Siron Blang memang memprihatinkan. Kondisi rumah mereka menggambarkan jika desa tersebut masih jauh tertinggal. Rumah yang tergolong layak, dapat dihitung jari. Rata-rata terbuat dari kayu dan sebagian atap sudah bolong. Penduduk di sana hidup di bawah garis kemiskinan.

Untuk air bersih, warga mengandalkan sungai yang mengalir tak jauh dari rumah. Di sanalah aktivitas mencuci, mandi, mengambil air hingga buang air besar dilakukan. Beberapa warga yang tergolong mampu, memilih menggali sumur sendiri. Jangan bayangkan ada toilet atau jamban di rumah-rumah penduduk.

"Kami untuk minum ambil air dari sungai. Kalau sungai sedang meluap dan keruh kami tetap ambil air di sana atau tampung air hujan. Kadang ada juga minta air dari sumur warga," jelasnya.

Pada pagi atau sore hari, kebanyakan warga 'turun' ke sungai untuk mengangkut air. Mereka membawa timba-timba besar dan bolak-bolak dari rumah beberapa kali. Jika sedang musim hujan, mereka menampung air di dalam bak di depan rumah dan digunakan untuk mencuci piring atau lainnya.

Hal lain yang sangat memprihatinkan, jalan aspal yang dibangun pemerintah tak habis sampai ke ujung kampung mereka. Padahal panjangnya tidak sampai satu kilometer lagi. Jembatan gantung yang ada di sana pun hanya muat untuk sepeda motor dan pejalan kaki. Jika ada orang sakit pada malam hari, mereka harus membawanya memutar melewati waduk keliling terlebih dahulu. 

"Padahal kalau jembatan ini lebih besar lagi dan muat mobil, kami bisa melewati jembatan ini dan jaraknya lebih dekat. Ini kalau ada orang sakit atau mau ke pusat kecamatan harus memutar dulu dengan jarak sangat jauh," kata Fitriah, seorang warga setempat.

Letak Desa Siron Blang sebenarnya terletak tidak terlalu jauh dari jalan lintas Banda Aceh Medan. Hanya sekitar 20 menit jika menggunakan mobil. Sebelum sampai ke desa tersebut, terdapat waduk keliling yang sudah dijadikan salah satu objek wisata di Aceh Besar. Jalan masuk ke lokasi wisata juga sudah beraspal mulus. Tapi ya itu tadi, begitu masuk Desa Siron Blang jalanan dibiarkan bebatuan.

Warga di sana hanya dapat bersabar dengan keadaan. Mereka sudah beberapa kali melapor kondisi desa mereka ke Pemerintah Aceh Besar dan berharap adanya perhatian. Tapi hingga kini belum ada pembangunan apa-apa di sana. Bantuan yang diberikan pun tidak semua warga menerimanya.

Khatijah berkisah, ia hanya menerima bantuan beras raskin dan 15 ekor anak bebek dari Pemkab setempat. Bantuan lain, tidak pernah menyambanginya. Untuk bertahan hidup, Khatijah bekerja serabutan. Kadang ia bekerja di sawah orang lain (teu upah) atau menekuni pekerjaan lain.

"Saya punya sawah tapi tidak luas hasil yang didapat hanya cukup untuk makan. Anak saya laki-laki semua dan mereka sudah nikah. Hidup mereka juga pas-pasan," ungkap Khatijah.

Warga di sana hanya dapat menanam padi di sawah cuma sekali dalam setahun. Kendalanya tak ada irigasi atau air yang mencukupi untuk dialiri ke sawah. Padahal, kebanyakan petani Aceh turun ke sawah dalam setahun dua hingga tiga kali. Selain bertani, masyarakat Siron Blang berprofesi sebagai pekebun atau pekerja serabutan.

Saat detikcom berkunjung ke sana, sejumlah perempuan atau remaja terlihat sibuk mengupas pinang. Mereka duduk di rumah masing-masing. Harga pinang untuk saat ini memang tengah bersahabat yaitu Rp 12.000 per kilogram dibandingkan sebelumnya Rp 10.000. Sebagian mereka menggantungkan hidup dari hasil kebun.

"Masyarakat di sini ada juga yang bekerja sebagai pencari rotan," jelas Fitriah. Ia membuka sebuah kios kecil di depan rumahnya untuk menghidupi keluarganya.

Menurut Fitriah, kondisi Desa Siron Blang sangat rumit. Masyarakat di sana berharap ada bantuan air bersih atau minimal penggalian sumur sehingga tidak ada lagi warga yang mengkonsumsi air sungai. Kondisi paling menyedihkan bagi warga, kata Fitriah, saat air sungai sedang meluap atau keruh. 

Pihak TNI beberapa waktu lalu memang sudah berupaya membantu warga. Mereka telah mencoba membuat sumur bor tapi terkendala banyaknya batu sehingga tidak maksimal. Komandan Kodim 0101/BS Letkol Mahesa Fitriadi, mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan survei kembali untuk membantu warga membangun sumur bor.

"Kami juga akan membangun jamban di desa ini sehingga warga tidak lagi buang air besar ke sungai," kata Mahesa.

Menurut Dandim, kondisi rumah dan jalan di Desa Siron Blang akan disampaikan ke Pemerintah Daerah Aceh. Sehingga, jelasnya jika ada program-program yang pro rakyat dapat diarahkan ke desa tersebut. 

"Ini sudah ada gambaran sehingga bisa kami laporkan," jelasnya.

Kehidupan warga Desa Siron Blang menjadi salah satu potret kemiskinan Aceh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin di Aceh mencapai 848 ribu orang atau 16,73 persen dari total penduduk. Angka tersebut memang mengalami penurunan sebanyak 11 orang jika dibandingkan pada September 2015 lalu.

Sungguh ironi memang. Di tengah melimpahnya kucuran dana otonomi khusus, Tanah Rencong menduduki peringkat kedua termiskin di Sumatera setelah Bengkulu. Pembangunan yang dilakukan sejak usai darurat militer hingga kini belum sepenuhnya merata. 


Sejak 2008 hingga 2015, Aceh telah menerima dana Otsus senilai Rp 41,49 triliun. Dana Otsus menjadi sumber penerimaan utama bagi pembangunan Aceh, dengan rata-rata peningkatan penerimaan 11 persen per tahun. Dari APBA 2015 yang berjumlah Rp 12,7 triliun, lebih dari separuhnya berasal dari dana Otsus.

Dana Otsus akan diiterima Aceh sampai 2027. Selama 20 tahun jangka waktu berlakunya dana Otsus, Aceh diperkirakan akan menerima senilai Rp 163 triliun. Pemerintah Aceh sejak beberapa waktu punya program membangun rumah untuk kaum duafa diseluruh Aceh. Tapi hingga kini, rumah tersebut belum pernah menyapa warga desa tersebut.

"Tidak ada bantuan rumah duafa di sini. Yang ada rumah bantuan konflik dua unit," kata Geuchik Desa Siron Blang, Mustafa.

Menurut Mustafa, Desa Siron Blang ditempati oleh 450 penduduk atau 113 kepala keluarga. Ia tidak dapat berbuat banyak untuk membantu warga agar mendapatkan kehidupan yang layak. Pasalnya, sudah berkali-kali memohon perhatian pemerintah tapi tidak pernah ada tanda-tanda kepedulian.

Di desa yang dipimpinnya, ada sekitar 20 unit rumah yang memang sudah sangat tidak layak untuk ditempati. Ia berharap Pemerintah Aceh Besar memberi perhatian untuk desa mereka terutama masalah air bersih.

"Pernah beberapa waktu lalu ada dokter datang kemari dan mengecek kondisi kesehatan warga. Kebanyakan mengalami gatal-gatal akibat sering mandi di sungai," jelasnya.

Saat ini, Pemerintah Aceh tengah membuka jalan tembus dari Jantho (Aceh Besar) ke Lamno (Aceh Jaya). Menurut Dandim Mahesa, setelah jalan tersebut selesai dibangun Desa Siron Blang dapat berubah menjadi lebih maju sehingga tidak ada lagi kesan terpencil.

"Seperti kita lihat bersama, masyakatan di sini bukan masyarakat ketinggalan tapi desa karena letaknya paling ujung. Dengan adanya jalan tembus Jantho-Lamno, harapannya desa ini sudah bisa sama dengan desa lain. Sehingga tidak ada kesan terpencil," ungkap Mahesa.

Khatijah, Fitriah dan Mustafa tidak meminta hal muluk-muluk pada pemerintah. Mereka hanya berharap dua hal. "Kami butuh air bersih dan jalan atau jembatan yang layak," kata Fitriah. "Semoga ada perhatian dari pemerintah baik dari segi air bersih dan lainnya," ungkap Mustafa.  (dtk)

You Might Also Like

0 komentar